Senin, 22 Maret 2010
Kamis, 04 Maret 2010
Senin, 01 Maret 2010
Lebih mencengangkan lagi adalah fakta bahwa Indonesia mencetak rekor yakni sebagai negara dengan jumlah perokok remaja tertinggi di dunia. Hakim Sorimuda Pohan seusai acara peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2006 menuturkan bahwa saat ini tak kurang dari 13,2 persen anak-anak di Indonesia menjadi penghisap rokok. (republika.co.id, 1/6/2006). Berdasarkan survei, sekitar 34 persen anak sekolah usia SMP di Jakarta pernah merokok. Sekitar 16,6 persen di antaranya masih aktif merokok. Di Bekasi, Jawa Barat, 33 persen murid usia SMP juga pernah merokok dan 17,1 persen di antaranya tergolong perokok aktif. Di Medan, 34,9 persen anak usia SMP pernah merokok dan 20,9 persen masih aktif merokok (republika.co.id, 1/6/2006).
Sungguh amat menyedihkan melihat banyaknya perokok berusia remaja dan anak-anak. Bila hal ini tidak segera ditanggulangi maka dikemudian hari akan menyebabkan serangkaian permasalahan seperti peningkatan jumlah angka kematian akibat rokok serta penurunan usia produktif SDM bangsa Indonesia. Selain itu, bahaya lain yang tersembunyi dari merokok adalah bahwa remaja dan anak-anak yang menjadi perokok aktif akan lebih rentan untuk terjerumus kepada bahaya Narkoba (McDonough, 2003) dan minuman keras (Robertson, 2002).
(weko dari berbagai sumber)
Mu’tadin (2002) yang membagi perokok menjadi 3 yaitu Perokok berat merokok sekitar 21-30 batang sehari dengan selang waktu sejak bangun pagi berkisar antara 6-30 menit. Perokok sedang menghabiskan rokok 11-21 batang dengan selang waktu 31-60 menit setelah bangun pagi. Perokok ringan menghabiskan rokok sekitar 10 batang dengan selang waktu 60 menit dari bangun pagi.
Selanjutnya, menurut Tomkins (dalam Mu’tadin, 2002) tempat merokok juga dapat mencerminkan pola perilaku merokok. Berdasarkan tempat-tempat dimana seseorang menghisap rokok, maka dapat digolongkan atas :
1. Merokok di tempat-tempat umum/ ruang publik:
a. Kelompok homogen (sama-sama perokok), secara bergerombol mereka menikmati kebiasaannya. Umumnya mereka masih menghargai orang lain, karena itu mereka menempatkan diri di smoking area.
b. Kelompok yang heterogen (merokok ditengah orang-orang lain yang tidak merokok, anak kecil, orang jompo, orang sakit, dll). Mereka yang berani merokok ditempat tersebut, tergolong sebagai orang yang tidak berperasaan, kurang etis dan tidak mempunyai tata krama. Bertindak kurang terpuji dan kurang sopan, dan secara tersamar mereka tega menyebar “racun” kepada orang lain yang tidak bersalah.
2. Merokok di tempat-tempat yang bersifat pribadi:
1. Di kantor atau di kamar tidur pribadi. Mereka yang memilih tempat-tempat seperti ini sebagai tempat merokok digolongkan kepada individu yang kurang menjaga kebersihan diri, penuh dengan rasa gelisah yang mencekam.
Tahapan seseorang menjadi perokok tetap (Laventhal & Cleary;1980, Flay;1993);
1. Persiapan; sebelum seseorang mencoba rokok, melibatkan perkembangan perilaku dan intensi tentang merokok dan bayangan tentang seperti apa rokok itu.
2. Inisiasi (initiation); reaksi tubuh saat seseorang mencoba rokok pertama kali berupa batuk, berkeringat. (Sayangnya hal ini sebagian besar diabaikan dan semakin mendorong perilaku adaptasi terhadap rokok)
3. Menjadi perokok; melibatkan suatu proses ‘concept formation’ , seseorang belajar kapan dan bagaimana merokok dan memasukkan aturan-aturan perokok ke dalam konsep dirinya
4. Perokok tetap; terjadi saat faktor psikologi dan mekanisme biologis bergabung yang semakin mendorong perilaku merokok.
Faktor Psikologis;
1. Kebiasaan (terlepas dari motif positif atau negatif)
2. Untuk menghasilkan reaksi emosi positif (kenikmatan, dsb)
3. Untuk mengurangi reaksi emosi negatif (cemas, tegang, dsb)
4. Alasan sosial (penerimaan kelompok)
5. Ketergantungan (memenuhi keinginan/ kebutuhan dari dalam diri) (Oskamp & Schultz, 1998. dalam Ardiningtiyas, 2006)
Proses Biologis
Nikotin diterima reseptor asetilkotin-nikotinik yang kemudian membagi ke jalur imbalan dan jalur adrenergenik. Pada jalur imbalan, perokok akan merasakan nikmat, memacu sistem dopaminergik. Hasilnya perokok akan merasa lebih tenang, daya pikir serasa lebih cemerlang, dan mampu menekan rasa lapar. Di jalur adrenergik, zat ini akan mengaktifkan sistem adrenergik pada bagian otak lokus seruleus yang mengeluarkan sorotin. Meningkatnya sorotin menimbulkan rangsangan rasa senang sekaligus keinginan mencari rokok lagi. Hal inilah yang menyebabkan perokok sangat sulit meninggalkan rokok, karena sudah ketergantungan pada nikotin. Ketika ia berhenti merokok rasa nikmat yang diperolehnya akan berkurang. (Mu’tadin, 2002)
Aspek-aspek kecanduan merokok menurut Sani (2005) adalah sebagai berikut:
1. Ketagihan secara fisik atau kimia, yaitu ketagihan terhadap nikotin (nicotine addiction)
2. Automatic Habit, berupa kebiasaan dalam merokok (ritual habit) seperti membuka bungkus rokok, menyalakannya, menghirup dalam-dalam, merokok sehabis makan dan merokok sambil minum kopi dan lain-lain
3. Ketergantungan psikologis/ emosional, dimana kebiasaan merokok dipakai dalam mengatasi hal-hal yang bersifat negatif, misalnya rasa gelisah, kalut ataupun frustasi
Sumber:
Ardiningtiyas, Pitaloka, RR. 2006. Moral Exclusion dan Rokok (Online). Available: http://www.e-psikologi.com/sosial/060206.htm
Johnson, J. 2005. Kawasan Tanpa Rokok Mencegah PTM (Online). Available: http://www.promosikesehatan.com/artikel.php?nid=81
Kompas. 2001. Udara Bebas Asap Rokok adalah HAM;
Kompas. 2002. “Katakan Tidak Pada Rokok”, “Meksiko Larang Iklan Rokok”; Kompas-cetak; 2 Juni 2002; h. 21
Mu’tadin, Z. 2002. Remaja & Rokok (Online). Available: http://www.e-psikologi.com/remaja/050602.htm
Sani, A. 2005. Pengalaman 3 Tahun Pelayanan Klinik Berhenti Merokok, Yayasan Jantung
Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional 2001 (Johnson, 2005) menyebutkan bahwa:
1. 27 % penduduk berusia di atas 10 tahun menyatakan merokok dalam satu bulan terakhir.
2. 54, 5 % penduduk laki-laki merupakan perokok dan hanya 1,2 % perempuan yang merokok.
3. Terdapat peningkatan sebesar 4 % penduduk, umur diatas 10 tahun yang merokok dalam kurun waktu 6 tahun.
4. 92, 0 % dari perokok menyatakan kebiasaannya merokok di dalam rumah, ketika bersama anggota keluarga lainnya, dengan demikian sebagian besar anggota keluarga lainnya merupakan perokok pasif.
5. 68, 5 % penduduk mulai merokok pada usia 20 tahun meningkat 8 % dari Susenas 1995 yaitu 60, 0 %.
6. Peningkatan usia muda yang merokok, kelompok umur 25-29 tahun (75 %) dan kelompok umur 20-24 tahun (84, 0 %).
Seorang konsultan WHO dan
1. Tidak adanya pengetahuan di kalangan perokok tentang resiko merokok
2. Tidak cukupnya pengetahuan badan-badan pemerintah dan LSM, yaitu pengendalian rokok bagi kesehatan dan perekonomian, serta taktik-taktik menyesatkan yang dipakai oleh industri rokok
3. Tidak adanya komitmen oleh para politisi dan departemen pemerintah
4. Adanya kerancuan wewenang Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) dan Departemen Kesehatan dan Departemen Kesejahteraan Sosial
5. Kuatnya sektor industri rokok
6. Desentralisasi dan tidak adanya kerangka kerja di daerah untuk mengimplementasikan perangkat pengendalian rokok
Aspek Ekonomi Rokok yang negatif.
Dari segi ekonomi, menurut Report of WHO Expert Committee(1963), ada tiga hal penting sehubungan dengan efek negatif dari tingkahlaku merokok. Efek ini adalah berikut ini :
a. Penurunan produksi (loss of production) yang diakibatkan oleh menurunnya harapan hidup, meningkatnya absensi kerja karena penyakit yang didapat dari merokok, serta meningkatnya gangguan yang bersifat permanen.
b. Meningkatnya biaya perawatan kesehatan sebagai akibat dari penyakit yang ditimbulkan dari merokok.
c. Kebakaran dan kecelakaan yang bisa timbul dari tingkahlaku merokok yang dilakukan secara tidak hati-hati sehingga berakibat jatuhnya korban jiwa dan sumberdaya alam.
Lebih kurang 1,1 milyar penduduk dunia merokok (World Bank,1999). Pada tahun 2025,jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat sampai dengan 1,6 milyar. Dengan jumlah perokok sebanyak 75% dari populasi, WHO melaporkan bahwa Indonesia adalah satu dari lima negara yang terbanyak perokoknya di dunia (Adiatma,1992)
.Hasil penelitian di berbagai daerah menunjukkan bahwa jumlah perokok pria di Indonesia adalah 18,8%-54% (Kristanti, Sapardyah dan Suhardi, 1988; Rustamadji, 1986, Masironi dan Rotwell, 1985, cit. Wawolumaya,1996;WHO,1985).
Remaja di Indonesia mulai merokok pada umur yang sangat muda. Hasil dibeberapa tempat menunjukkan bahwa remaja mulai merokok pada umur 5-12 tahun (Wawolumaya, 1996), 5-18 tahun dengan persentasi terbesar umur 14 tahun (Rustamadji, 1986), 10-14 tahun(Bandi, cit. Santoso, 1993), 8-10 tahun (Santoso, 1993),15tahun (Kristanti, Sapardiyah, Suhardi, 1998) dan 15-20 (Siregar, Yasid, Asykaruddin, Razali dan Siregar, 1985).Alasan remaja mulai merokok di Indonesia bervariasi. Mereka merokok untuk pergaulan/persahabatan,coba coba, mengurangi tekanan/stres, meniru orang tua/dewasa yang sudah merokok,menimbulkan perasaan dewasa/matang dan perasaan jantan (Santosa,1993). Selain itu, 47%-65% remaja perokok di Indonesia mempunyai ayah perokok. Remaja Perokok pada umumnya berpendapat merokok merupakan hal yang umum, di kalangan remaja, meskipun merokok itu adalah kebiasaan buruk, namun merokok dapat menyebabkan gaul, meningkatkan kejantanan, menyebabkan rasa nyaman dan mengurangi stress. Remaja Prokok mengatakan tidak merokok sama dengan tidak jantan. Dan mereka tahu bahwa lebih mudah mencegah daripada berhenti merokok.